"Aku kehilangan orang yang sangat berarti; ibuku. Kemudian beberapa kesedihan aku tuturkan, sampahnya, mereka bilang aku galau."

3.23 JGJ

Jogjakarta, dinihari pada terminal, bangku-bangku yang kosong, hati melompong.

Perjalanan yang akhirnya terjadi. Penunaian janji, pada diri sendiri. Bukan karna apa, siapa atau kamu sekalipun.

"Hatiku pecah, berkali-kali."

Padamu, tertanam sejuta harapan yang selalu mekar, tumbuh dan berakar.

Ibu

"Kepada orang-orang yang merasa paling kuat dan tegar, tak pernah ada yang ingin bersedih berlama-lama. Tak pernah."

Hatiku lebam—membiru.

Bolehkah aku menangis keras-keras, ibu?
Berpuluh hari aku merindu, berpuluh hari airmataku membeku, harapanku menjadi abu.
Bolehkah aku menangis keras-keras, ibu? melepas duka yang paling luka—mengendap di dada.
Bolehkah aku menangis keras-keras, ibu?
Hatiku lebam—membiru.

"Apakah doa-doaku sampai, ibu? selalu kukirim setiap waktu—merindu."